How could anyone mean more to me than you?

GOMBALAN itu dinyanyikan oleh Karen Carpenters. Pentolan utamanya, yaitu Karen dan Richard, dua bersaudara yang menyampaikan lagu-lagu cinta lewat syair. Liriknya magis dan menggugah hati, terutama bagi yang sedang kasmaran. Saya pertama kali diperdengarkan lagu-lagu Carpenters kala masih belia, oleh orang tua. Lagu itu kadang diputar di jalan kala hendak pergi ke suatu tempat. Selepas itu, lama saya tidak mendengar lagu dari band tersebut.

Sekitar lebih dari sepuluh tahun, saya kembali diperdengarkan irama-irama itu. Tidak ada perubahan yang pasti, hanya ingatan yang diseret ke masa kecil. Di waktu ini, sensasinya juga makin menghunus, karena sesuai dengan getaran hati. Saya juga pernah mengalaminya, tapi dalam sejarah hidup, kisah cinta saya selalu berakhir dengan nahas. Jadi, ya hanya bisa menikmati irama dan nadanya.

Saya, jujur saja, kadang getir ketika lagu mereka melantun. Sebab kadang merasa: kapan saya bisa merasakan lirik itu secara nyata, alih-alih hanya menjadi pendengar. Lagunya tidak sederhana, ditambah alunan vokal yang sangat mewah. Suara Karen lewat lagu-lagunya menjadikan sebuah rasa tersendiri, yang barangkali hilang ketika dinyanyikan orang lain. Ini yang kemudian menjadi semacam animo bagi sebagian orang, terutama mengenai perasaan yang menggebu.

Semuanya dinyanyikan Karen dengan cara yang relatif berbeda dari penyanyi, khususnya perempuan, di eranya. Suaranya yang terdengar ‘berat’ karena berada di rentang vokal ‘kontralto’. Artinya, suaranya berada di dalam not dan oktaf yang terbilang sangat rendah. Di sisi lain, suara Karen yang berada dalam rentang harmoni multivokal menjadikan dinamika bunyi yang unik sekaligus menakjubkan dengan effort yang tidak besar-besar amat.

Carpenters sebenarnya juga bukan ‘Carpenters’ tanpa adanya alunan musik dan harmoni dari Richard. Semenjak dibentuk, ia telah bertindak sebagai pianis dan juga seseorang yang mengurus aransemen lagunya. Aransemennya dapat terbilang kaya, karena memadukan instrumen-instrumen seperti trombon dan terompet. Kekayaan ini tentu saja menjadikan lagu-lagu Carpenters memiliki irisan dengan suasana kemegahan

Lagu Wajib Cegil dan Cogil

Memang, lagu-lagu tersebut bersifat sangat terus terang untuk urusan cinta. Bagi Carpenters, cinta memang harus diutarakan dalam wujud yang frontal dan telanjang. Salah satu contohnya adalah lagu A Song for You. Bayangkan: liriknya yang berbunyi: I love you in a place where there s no space and time. I love you for my life. Bagaimana mungkin ini dinyanyikan oleh orang yang pemalu! Saya mendakwa lantunan ini hanya dinyanyikan oleh mereka yang menyandang status cogil dan cegil di belakangnya.

Atau mungkin I Won’t Last A Day Without You di album yang sama, yaitu A Song For You. Liriknya bagi saya jauh lebih puitis, serta menggambarkan bagaimana sensasi kehangatan antara dua orang yang didekap dalam ruang kedap suara bernama kasih sayang. Liriknya berbunyi: I can take all the madness the world has to give, but I won’t last a day without you . Bisa klepek-klepek apabila ada seorang yang bicara demikian pada saya. Hehehehe.

Belum lagi kalau bicara lagu You di album ‘A Kind of Hush’, yang bagi saya adalah kuncian gombal para cegil dan cogil. You are one of the few things worth remembering / And since it's all true / How could anyone mean more to me than you? Atau ini: I'm on the top of the world lookin' down on creation/ And the only explanation I can find / Is the love that I've found, ever since you've been around / Your love's put me at the top of the world.

Ironi di Akhir Kisah

Band duo kakak-beradik ini mulai menemui sebuah jalan terjal setelah memulai eksistensinya. Karen menderita anoreksia, sebuah kondisi mental yang obsesif pada tubuh kurus, sehingga menurunkan semangatnya di panggung. Dalam nukilan wawancara pada 1972, seorang audiens mengatakan bahwa lewat suara, Karen terlihat sedang menderita, “Anda bisa merasakan perasaannya, rasa sakit dan kesedihannya.”

Itu benar. Ketika Randy Schmidt, seorang biografer Karen mengungkapkan bahwa, “Pers dan acara televisi tidak pernah memperlihatkan kepribadian yang dalam dari seorang Karen… Ada banyak hal terkait dirinya yang masih tidak diketahui oleh khalayak.” Dalam buku Little Girl Blue: The Life of Karen Carpenter, Schmidt mengungkapkan bahwa ada suatu lubang di hati Karen yang tidak mudah untuk ditambal. Momen tersebut bermula ketika sang ibu, yang dominan dalam rumah tangga Harold Carpenter, selalu mengistimewakan Richard. Semua proyeksi diperuntukkan si sulung.

Benar saja, tahun 1975 merupakan sebuah momen kemunduran fisik bagi Karen. Berat tubuhnya hanya sekitar 41 kilogram. Ia mesti dirawat di rumah sakit untuk pemulihan karena berkaitan langsung dengan kondisi fisik dan mental sang vokalis. Tak sampai di situ, batin Karen juga mulai digoreskan luka karena hubungan buruk dengan seorang pengusaha, Tom Burris. Akibatnya, ia harus menjalani proses berpisah dengan lelaki 39 tahun yang disangka-sangka tambatan hatinya itu.

Hal itu berkorelasi dengan kondisi fisik Karen. Ia memulai program ‘Stillman water diet’ Diet yang menganjurkan untuk mengonsumsi 8 gelas sehari. Ini menunjukkan sebuah ironi, sebab besar kemungkinan bahwa merupakan ‘usaha bawah sadar untuk membuktikan bahwa dirinya menguasai setidaknya satu hal dalam kehidupan yang terlalu terkendali: tubuhnya sendiri’[1]

Bukankah semua ini kontradiksi? Saya curiga pada kebenaran sebuah adagium: orang yang tersakiti adalah mereka yang terlihat periang. Bagaimana mungkin, seorang dengan suatu kondisi eksistensial bisa menjual sebanyak 34,6 juta kopi? Di akhir hidupnya, ia banyak menemui kondisi yang tidak mengenakan, terutama hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Tetapi, semua itu terbayar dengan suatu kenyataan bahwa ia adalah figur yang dicintai dan dirindukan orang, selepas kepergiannya.

Dalam upacara penguburannya, Pendeta Charles Neal berkata, “Karen sendiri menjadi sebuah lagu untuk dunia—sebuah lagu yang indah untuk dunia.” Benar apa yang dikatakan John Bettis, bahwa “Ia adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling berbakat dan penuh talenta”.[2]